Zata KomputIndo - Badan Gambut Kembangkan Teknologi Prediksi Karhutla 3 Hari Sebelumnya

Badan Gambut Kembangkan Teknologi Prediksi Karhutla

Setiap musim kemarau, kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seakan jadi "langganan" tahunan di Indonesia. Nah, ada kabar segar: pemerintah kini menyiapkan langkah yang lebih proaktif — bukan cuma memadamkan api, tapi memprediksi kebakaran sebelum api muncul.

Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) berencana mengembangkan teknologi yang ditargetkan mampu mendeteksi potensi karhutla hingga tiga hari sebelum kejadian. Wakil Kepala BPGMN Sriyanto menyatakan pemantauan perlu dilakukan secara komprehensif, mulai dari identifikasi hingga proyeksi. Pengembangan ini akan memanfaatkan sistem yang sudah dikembangkan berbagai pihak, termasuk kepolisian daerah.

Air Gambut: Indikator Kuncinya

Salah satu indikator utama yang perlu diperhatikan adalah tinggi muka air gambut. Jika permukaan air berada di bawah 40 sentimeter, tindakan segera harus dilakukan untuk menekan risiko kebakaran. Kepala BPGMN menjelaskan bahwa perubahan kondisi gambut dari basah menjadi kering merupakan persoalan mendasar — pembangunan kanal yang mengalirkan air keluar dari kawasan kubah gambut membuat wilayah tersebut rentan saat kemarau tiba.

Karena itu, pihaknya berencana memetakan kanal dan membangun sekat untuk menjaga kelembapan gambut. Selain langkah teknis, BPGMN juga akan melibatkan masyarakat lewat budidaya komoditas yang tidak membutuhkan banyak air, seperti sagu, jelutung, dan nanas — supaya ekonomi warga tetap berjalan sambil lahannya ikut terjaga.

Kenapa Lahan Gambut Begitu Rentan?

Lahan gambut menyimpan karbon dalam jumlah besar dan punya karakteristik unik: api bisa merambat di bawah permukaan tanah sehingga kebakaran gambut sulit dipadamkan. Kawasan hidrologis gambut di Indonesia sendiri mencapai sekitar 24 juta hektare — wilayah yang sangat luas untuk dipantau secara manual. Di sinilah teknologi prediksi menjadi krusial: semakin dini potensi kebakaran terdeteksi, semakin besar peluang mencegahnya sebelum api meluas.

Lahan Gambut

AI dan Warga Desa Ikut Dikerahkan

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyatakan kesiapannya mendukung BPGMN, terutama lewat pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi titik panas (hotspot) secara lebih dini. BRIN sudah lebih dulu memantau hotspot bersama Kementerian Kehutanan, dan sistem tersebut akan terus diperbarui dengan AI yang semakin canggih agar kebakaran bisa diantisipasi lebih awal.

Selain AI, para pakar juga membahas sejumlah teknologi pendukung lain: water injection (penyuntikan air ke dalam lahan), penyediaan pompa air di tingkat desa, hingga bahan alternatif untuk membantu pemadaman. Sementara itu, pendekatan berbasis desa menjadi kata kunci — kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat desa akan diberdayakan karena dinilai efektif, sebab warga yang tinggal di sekitar kawasan hutan punya kedekatan dan rasa memiliki terhadap lingkungannya.

Kenapa Ini Menarik Buat Kamu?

Bayangkan: kebakaran hutan yang biasanya baru diketahui setelah asap mengepul, kelak bisa diprediksi tiga hari sebelumnya. Artinya ada waktu untuk evakuasi, pengerahan tim pemadam, sampai pengamanan aset warga — sebelum api sempat meluas. Buat masyarakat di sekitar lahan gambut, selisih waktu ini bisa jadi pembeda antara bencana dan sekadar peringatan dini.

Menarik juga melihat bagaimana teknologi — dari AI pendeteksi hotspot sampai sensor muka air — kini jadi garda depan mitigasi bencana. Teknologi yang tepat memang bikin banyak hal jadi mungkin; dan kalau perangkat IT di kantormu bermasalah, tim Zata KomputIndo siap membantu menanganinya.

---

Sumber berita: Kompas.com, VIV (viv.co.id), Nusantara TV

Chat WhatsApp Sekarang

atau hubungi langsung 0898-8201-417  •  🌐 zatakomputindo.com

Zata KomputIndo – One Stop Point Service. Teknisi datang, masalah beres.

0 Komentar

Kontak WhatsApp