Teknologi Dry Ice Diuji di Sumsel untuk Urai Kabut Asap Karhutla

Teknologi Dry Ice Diuji di Sumsel untuk Urai Kabut Asap Karhutla

Kabar menarik dari Sumatera Selatan: pemerintah resmi meluncurkan penerapan perdana teknologi dry ice (es kering) untuk membantu mengurai kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Ini adalah uji coba pertama di Indonesia, dengan Kota Palembang sebagai lokasi prioritas.

Peluncuran dilakukan Rabu (14/10/2026) di Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman meninjau langsung kesiapan operasi bersama Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru, Pangdam, dan Kapolda setempat. Program ini diusulkan oleh BMKG, mendapat persetujuan Presiden, dan dilaksanakan bersama BNPB — sekaligus menjadi bagian kerja sama Indonesia dan Thailand dalam penanganan kabut asap.

Apa Itu Dry Ice dan Bagaimana Cara Kerjanya?

Dry ice adalah karbon dioksida (CO2) dalam bentuk padat dengan suhu ekstrem sekitar -78°C. Uniknya, ia tidak meleleh menjadi cair, melainkan langsung berubah menjadi gas — proses yang disebut sublimasi.

Dalam konteks penanganan kabut asap, dry ice disebar ke atmosfer untuk membantu mengurai asap yang terperangkap di lapisan bawah udara. Menurut Menko Polkam, fungsinya adalah menaikkan asap yang tadinya menggumpal di bawah agar terangkat ke atas, sehingga lingkungan kota dan sekitarnya tidak lagi diselimuti gumpalan asap.

Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menjelaskan konsep di baliknya: asap karhutla sering terperangkap karena lapisan inversi atmosfer — kondisi ketika suhu udara justru meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan tertentu, sehingga menghambat pergerakan udara secara vertikal. Akibatnya, asap dan polutan menumpuk di dekat permukaan dan sulit menyebar. Penyemaian dry ice diharapkan membantu mengatasi hambatan tersebut sekaligus mendukung pembentukan awan dan hujan.

Berbeda dengan Hujan Buatan

Penting untuk tidak mencampuradukkan metode ini dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). OMC bertujuan merangsang turunnya hujan untuk membantu memadamkan api di titik kebakaran, dengan bahan seperti garam (natrium klorida) untuk membantu pembentukan butiran air di awan. Sementara itu, penyemaian dry ice khusus diarahkan untuk mengurai penumpukan asap di udara.

"Penyemaian dry ice ini khusus untuk mengurai asap, sedangkan OMC tetap dilaksanakan untuk menstimulasi hujan buatan guna memadamkan api. Jadi, semua upaya kita lakukan dari berbagai sisi," tegas Menko Dudung. Kedua metode berjalan beriringan, ditambah pemadaman api dan pengendalian kebakaran di lapangan yang tetap menjadi prioritas.

Zata KomputIndo

Efektivitasnya Masih Harus Dibuktikan

Sebagai teknologi yang baru pertama kali diuji di Indonesia, efektivitas dry ice masih harus dibuktikan lewat data lapangan. Keberhasilannya akan dinilai lewat indikator terukur: perubahan konsentrasi partikulat, jarak pandang, kondisi atmosfer, curah hujan, serta perkembangan kualitas udara sebelum dan sesudah operasi.

Dry ice juga bukan solusi ajaib — ia tidak otomatis menghilangkan asap atau menghasilkan hujan jika kondisi awan dan kelembapan yang dibutuhkan tidak tersedia. Gubernur Herman Deru menegaskan penggunaan dry ice tidak menggantikan langkah yang sudah berjalan: OMC, pemadaman api, dan pengendalian kebakaran tetap prioritas. Namun jika uji coba di Sumsel menunjukkan hasil sesuai harapan, pemerintah berpeluang mengembangkan metode serupa ke daerah lain yang menghadapi persoalan kabut asap, termasuk Kalimantan Tengah.

Kenapa Ini Menarik Buat Kamu?

Di tengah kabut asap yang setiap tahun mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat, kabar ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak berhenti mencari pendekatan baru. Dari pesawat penebar garam untuk hujan buatan, kini es kering bersuhu -78°C ikut dikerahkan ke langit Palembang. Teknologi tepat guna seperti ini layak kita apresiasi — dan hasilnya patut kita tunggu bersama.

Ngomong-ngomong soal teknologi, perangkat IT di meja kerjamu juga butuh perhatian. Laptop lemot atau jaringan kantor bermasalah sama-sama menurunkan produktivitas — dan untuk yang satu ini, kamu tidak perlu menunggu uji coba. Tim Zata KomputIndo siap membantu service, upgrade, sampai pengadaan perangkat IT.

---

Sumber berita: 20detik, Suara Realitas, Ketik.com, Utara Pos, Kaldera News, Jurnal Patrolinews, Harian Sriwijaya

Chat WhatsApp Sekarang

atau hubungi langsung 0898-8201-417  •  zatakomputindo.com

Zata KomputIndo – One Stop Point Service. Teknisi datang, masalah beres.



0 Komentar

Kontak WhatsApp